SEKOLAH GRATIS SEBAGAI IMPLEMENTASI
KEMAJUAN PENDIDIKAN
DI INDONESIA
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Bahasa Indonesia Keilmuwan
yang dibina oleh Bapak Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd
Oleh:
Adisma Auliya Arifa
209321419807
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
Januari 2010
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini, masyarakat Indonesia dapat sedikit bernafas lega. Pasalnya, biaya pendidikan yang sering dikeluhkan oleh masyarakat, kini sedikit berkurang. Hal ini disebabkan karena pemerintah tengah gencar mengadakan program sekolah gratis. Apa itu sekolah gratis? Apakah semua biaya sekolah mulai dari biaya operasional sekolah bahkan biaya kebutuhan pribadi semua ditanggung oleh pemerintah? Tentu saja tidak. Mendiknas Bambang Sudibyo mengatakan bahwa “kalau pun ada sekolah/pendidikan dasar gratis, yang digratiskan itu biaya operasional, sedangkan biaya di luar itu tetap jadi beban orangtua. Sejauh ini, Departemen Pendidikan Nasional RI tidak punya data daerah-daerah yang sudah melaksanakan sekolah gratis”. Hal ini menandakan bahwa sekolah gratis berarti masyarakat bebas akan pungutan sekolah, seperti biaya SPP yang diperuntukkan terutama bagi sekolah negeri tingkat SD sampai SMP. Jadi, sekolah gratis bukan berarti para orang tua murid sama sekali tidak mengeluarkan uang untuk anaknya, namun sedikit mengurangi beban biaya pendidikan sehingga program wajib belajar (wajar) 9 tahun dapat terwujud.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apakah pengertian sekolah gratis?
2. Apa sajakah dampak positif sekolah gratis?
3. Apa sajakah dampak negatif sekolah gratis?
4. Bagaimana implementasi sekolah gratis di masyarakat Indonesia?
C. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, dapat disimpulkan tujuan sebagai berikut:
1. Menjelaskan tentang pengertian sekolah gratis.
2. Menjelaskan tentang dampak positif sekolah gratis.
3. Menjelaskan tentang dampak negatif sekolah gratis.
4. Menjelaskan tentang implementasi sekolah gratis di masyarakat Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian kebijakan sekolah gratis
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa pemerintah telah mengupayakan adanya program sekolah gratis untuk mengurangi jumlah anak yang putus sekolah di Indonesia. Program tersebut telah diberlakukan sejak tahun 2009 ini. Fatkhul Anas (2009) berpendapat bahwa “ada tiga alasan mengapa pemerintah akan memberlakukan sekolah gratis”. Antara lain:
• Dibandingkan tahun sebelumnya,dana bantuan operasional sekolah naik 50 persen (Fatkhul Anas, 2009).
Fatkhul Anas (2009) menyatakan hal berikut.
Dana BOS untuk SD tahun ini mencapai Rp 397.000 untuk tingkat kabupaten, adapun di tingkat kota mencapai Rp 400.000. Tahun lalu dana BOS untuk SD hanya Rp 254.000. Untuk SLTP, BOS tahun ini mencapai Rp 570.000 di tingkat kabupaten, sedang di kota mencapai Rp 575.00. Tahun lalu BOS untuk SLTP hanya Rp 354.000.
• Alokasi anggaran pendidikan tahun 2009 mengalami kemajuan (Fatkhul Anas, 2009).
Fatkhul Anas (2009) menyatakan bahwa “untuk 2009, pemerintah telah memutuskan memenuhi ketentuan UUD 1945 pasal 31 tentang alokasi APBN untuk pendidikan adalah 20 persen”.
• Adanya kenaikan gaji guru di tahun 2009 (Fatkhul Anas, 2009).
Fatkhul Anas (2009) menyatakan bahwa “...mulai tahun ini pendapatan guru pegawai negri sipil (PNS) berpangkat terendah yang belum berkeluarga dengan masa kerja nol tahun akan ditetapkan sekuang-kurangnya berpendapatan Rp 2.000.000”.
Dengan adanya beberapa faktor di atas, maka sudah seharusnya pemeritah mengupayakan adanya sekolah gratis di negara ini. Untuk itu, sejak tahun 2009 ini, seharusnya sekolah gratis dapat terealisasi di negara ini.
Namun, yang menjadi persoalan sekarang ini adalah apakah yang sebenarnya dimaksud dengan sekolah gratis tersebut? Pemerintah perlu lebih waspada terhadap istilah kebijakannya tersebut. Masyarakat bisa saja memberikan argumen-argumen dan sanggahan terhadap istilah yang diberikan pemerintah tersebut.
Mengingat hal tersebut, perlu kita ketahui bersama pengertian dari sekolah gratis yang sebenarnya. Sekolah gratis merupakan upaya pemerintah yang membebaskan biaya operasional sekolah, namun bukan termasuk biaya individu siswa seperti biaya untuk memenuhi kebutuhan pribadi siswa. Bambang Sudibyo (dalam Adi Nawangjati, 2009) mengungkapkan bahwa “lha wong anak yang tidak sekolah saja butuh biaya kok. Jadi biaya pribadi peserta didik misalnya uang saku, transport, sepatu, buku/alat tulis adalah tanggung jawab peserta didik, dalam hal ini orang tua dalam pendanaan pendidikan''.
Biaya operasional yang dimaksud dalam hal ini contohnya biaya SPP yang diperuntukkan terutama bagi sekolah negeri tingkat SD sampai SMP lalu mengapa istilah kebijakan pemerintah ini disebut “sekolah gratis”, dan bukan “SPP gratis” saja? Hal tersebut perlu ditindaklanjuti.
Karena adanya polemik di atas, maka perlu adanya peraturan daerah yang mengatur kejelasan tentang sekolah gratis tersebut. Karena di tiap-tiap sekolah, ada yang dinamakan pungutan ataupun sumbangan. Hal yang dilarang pemerintah dalam rangka program sekolah gratis tersebut adalah adanya pungutan. Dengan adanya pungutan, beresiko menimbulkan adanya pungutan liar sekolah yang mengakibatkan biaya pendidikan semakin mahal serta berdampak pada masyarakat menengah bawah.
Menanggapi hal tersebut, Bambang Sudibyo (dalam Adi Nawangjati,2009) menegaskan hal berikut.
Harus dibedakan antara sumbangan dan pungutan. Saat ini tidak sedikit kepala sekolah yang takut menerima sumbangan karena khawatir diperiksa kejaksaan. Padahal, hal itu diperbolehkan mengingat sumbangan sifatnya tidak ditentukan jumlah dan waktu penyerahannya. Di samping itu, sumbangan pada sekolah merupakan bagian dari kedewasaan masyarakat.
Dengan adanya penjelasan perbedaan tentang pungutan dan sumbangan, diharapkan dapat mengurangi argumen dan telaah yang salah tentang sekolah gratis dan penerapannya di masyarakat indonesia.
B. Dampak kebijakan sekolah gratis
Segala bentuk upaya yang dilakukan pasti membawa pengaruh dan akibat, baik itu kearah positif ataupun negatif. Sama halnya dengan kebijakan yang telah ditempuh pemerintah tentang sekolah gratis demi kemajuan pendidikan di negara ini.
Adapun dampak positif adanya sekolah gratis, antara lain:
• Biaya pendidikan semakin terjangkau oleh semua kalangan masyarakat.
• Meningkatnya jumlah siswa yang bersekolah.
Dengan adanya sekolah gratis, maka beban biaya pendidikan dapat sedikit berkurang, sehingga minat belajar siswa pun akan bertambah. Dengan bertambahnya minat siswa, maka jumlah siswa yang bersekolah juga semakin bertambah.
• Menurunnya angka pengangguran di Indonesia.
Banyaknya jumlah siswa yang berekolah dan tidak lagi putus sekolah, memicu menurunnya angka pengangguran di negara ini. Sebab, dengan pendidikan yang semakin maju, maka secara tidak langsung, tingkat SDM di negara ini juga semakin baik. Akibatnya, angka pengangguran dapat ditekan melalui potensi yang dimiliki oleh manusia yang semakin bertambah.
• Meningkatnya mutu pendidikan di Indonesia.
Dengan adanya kenaikan jumlah siswa yang melanjutkan pendidikannya di bangku sekolah, maka mempengaruhi tingkat mutu pendidikan di Indonesia. Meskipun masih perlu banyak perombakan dan perubahan sistem pendidikan agar mutu pendidikan di indonesia dapat benar-benar meningkat secara signifikan.
Sedangkan dampak negatif adanya sekolah gratis, antara lain :
• Kurangnya perhatian orang tua akan pendidikan anak.
Karena orang tua tidak lagi membayar biaya operasional sekolah seperti biaya SPP, buku, dan lain sebagainya, maka secara tidak langsung perhatian orang tua terhadap pendidikan anak mulai berkurang. Orang tua menganggap semua keperluan telah dipenuhi oleh pihak sekolah, sehingga orang tua siswa beranggapan anak/siswa tersebut telah dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
Hal tersebut sangatlah kurang tepat. Seharusnya, orang tua tetap memegang peranan penting dalam pendidikan anak/siswa. Meskipun biaya operasional sekolah telah terpenuhi, namun masih ada biaya-biaya lain yang seharusnya dikeluarkan oleh orang tua. Misalnya, biaya untuk membeli tas, sepatu, seragam, dsb.
• Kesadaran anak/siswa terhadap sekolah menurun.
Seiring dengan adanya sekolah gratis di negara ini, orang tua tidak lagi mendapat pungutan dari sekolah. Hal tersebut mengakibatkan rasa memiliki siswa akan sekolahnya semakin berkurang.
• Menurunnya pendapatan para guru.
C. Implementasi kebijakan sekolah gratis di Indonesia
Sekolah gratis memang telah terealisasi di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun tidak semua daerah telah merealisasikannya. Namun, seperti apakah realisasi sekolah gratis di masyarakat Indonesia? Romi Sudhita (dalam Hayadi, 2009) menyatakan bahwa “dalam kenyataannya sekolah gratis itu tidak pernah berlaku absolut. Di sana-sini masih ada bolongnya yang mengharuskan para orangtua merogoh saku untuk keperluan ini-itu, termasuk biaya les, dan biaya internetan”. Padahal mereka berfikir sekolah sudah digratiskan. Untuk itu, Kadisdikpora Bali Drs. Ketut Wija, M.M (dalam Hayadi, 2009) menyatakan bahwa “biaya operasional dan uang awal tahun memang gratis bagi anak-anak, tetapi yang lain-lain seperti seragam sekolah, peralatan sekolah, dan biaya transportasi ditanggung sendiri oleh peserta didik”.
Selain itu, Mendiknas RI Prof Dr Bambang Sudibyo (dalam Adi Nawangjati, 2009) berkata
Harus dibedakan antara sumbangan dan pungutan. Saat ini tidak sedikit kepala sekolah yang takut menerima sumbangan karena khawatir diperiksa kejaksaan. Padahal, hal itu diperbolehkan mengingat sumbangan sifatnya tidak ditentukan jumlah dan waktu penyerahannya. Di samping itu, sumbangan pada sekolah merupakan bagian dari kedewasaan masyarakat.
Menyikapi hal tersebut, pemerintah telah mempublikasikan iklan sekolah gratis di media elektronik yakni televisi yang menjelaskan bahwa sekolah gratis bukan berarti orang tua lepas tangan dalam membiayai kebutuhan pribadi anaknya. Seperti biaya seragam, sepatu, tas sekolah maupun transportasi. Namun, sekolah gratis yang diupayakan pemerintah adalah bebas biaya operasional sekolah seperti yang telah tersebut di atas. Upaya pemerintah tersebut cukup berpengaruh bagi masyarakat. Sehingga masyarakat tidak lagi merasa bingung akan sekolah gratis tersebut.
Selain itu, pemerintah juga seharusnya memberlakukan peraturan secara tertulis terhadap hal-hal yang menyangkut sekolah gratis di tiap-tiap daerah. Mendiknas pun telah meminta pemerintah daerah untuk mengeluarkan perda yang jelas tentang sekolah gratis tersebut. Mendiknas RI, Prof. Dr. Bambang Sudibyo (dalam Adi Nawangjati, 2009) berkata “perda harus jelas mengatur mana yang gratis dan mana yang pendanaan pendidikannnya dibebankan pada peserta didik, kalau perda tidak abu-abu maka tidak akan protes dari masyarakat terkait pelaksanaan peserta gratis”. Hal ini perlu ditindaklanjuti oleh masing-masing pemerintah daerah.
Setelah beberapa upaya dilakukan pemerintah untuk melancarkan sekolah gratis, masih saja ada halangan dari pihak tertentu. Sebut saja para guru dan karyawan sekolah. “Secara umum mereka mengaku ‘kehilangan’ penghasilan tambahan dari kegiatan ini-itu yang dilakoninya” (Romi Sudhita, 2009). Dapat dibayangkan, dengan adanya program sekolah gratis, berarti tidak ada lagi sumbangan atau istilahnya pungutan liar sekolah. Hal tersebut tentu berimbas pada penghasilan tambahan para guru.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sekolah gratis merupakan upaya sadar yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Sedangkan sekolah gratis merupakan upaya pemerintah yang membebaskan biaya operasional sekolah, namun bukan termasuk biaya individu siswa seperti biaya untuk memenuhi kebutuhan pribadi siswa
Sekolah gratis tersebut, juga membawa dampak positif maupun negatif. Adapun salah satu dampak positifnya adalah meningkatnya mutu pendidikan dan SDM di negara Indonesia. Hal ini disebabkan karena dengan adanya program sekolah gratis, maka semakin banyak siswa yang tidak lagi putus sekolah. Mereka dapat menikmati pendidikan seperti yang lainnya. Sehingga, kualitas SDM serta kualitas pendidikan di negaar Indonesia ini semakin meningkat. Selain dampak positif, ada pula dampak negatifnya. Salah satunya adalah karena kesejahteraan guru yang masih kurang pada saat ini, maka program sekolah gratis justru menurunkan pendapatan guru. Mengapa demikian? Karena secara logis, dengan adanya sekolah gratis, maka tidak ada lagi pungutan yang dibebankan pada orang tua siswa. Hal ini tentu mengakibatkan pendapatan guru menurun.
Selain menimbulkan berbagi dampak, sekolah gratis di Indonesia belum sepenuhnya terealisasi denagn optimal. Hal ini disebabkan karena belum semua daerah di Indonesia dapat menikmati sekolah gratis tersebut. Selain itu juga masih banyak hambatan-hambatan dalam implementasi sekolah gratis tersebut yang telah tercantum pada Bab II.
B. SARAN
Mengingat pemerintah telah berupaya mengadakan program sekolah gratis dan juga berupaya mengurangi dampak negatifnya, maka sekolah gratis seharusnya dapat dinikmati seluruh warga negara Indonesia. Tak ada lagi anak-anak yang harus putus sekolah. Untuk itu, perlu adanya beberapa alternatif solusi yang dapat diterapkan untuk mengurang dampak negatif tersebut. Antara lain :
a. Perlu diadakan koreksi langsung terhadap pelaksanaan program sekolah gratis tersebut di masing-masing daerah. Sehingga, program tersebut dapat berjalan lancar.
b. Sosialisasi program sekolah gratis di berbagai kalangan masyarakat, termasuk orang tua dan sisa. Agar tidak terjadi kesimpangsiuran program sekolah gratis tersebut di masyarakat.
c. Dukungan positif dari masyarakat sangat diperlukan untuk mendukung adanya program sekolah gratis tersebut untuk masyarakat dan dunia pendidikan.
d. Perlu adanya perbaikan-perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga dapat menunjang program sekolah gratis.
DAFTAR PUSTAKA
Sudhita, Romi. 2009. Sekolah Gratis dan Kebingungan Masyarakat, (Online),
(http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=4&id=2025,diakses 10 Oktober 2009).
Nawangjati, Adi. 2009. Sekolah Gratis Sering Disalah Interpretasikan, (Online),
(http://www.pdkjateng.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=112&Iemid=2, diakses 10 Oktober 2009).
Anas, Fatkhul.2009. Sekolah Gratis Cuma pada Biaya Operasional, (Online),
(http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/02/23/2107456/sekolah.gratis.cuma.pada.biaya.operasional).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar