Selasa, 07 Desember 2010

Tugas PPd Studi Kasus

STUDI KASUS
PEMBELAJARAN FISIKA BAGI SISWA
USIA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)


Untuk memenuhi tugas matakuliah
Perkembangan Peserta Didik
yang dibina oleh Bapak Dwi Haryoto

Oleh:
Adisma Auliya Arifa
209321419807
AA/CC





UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
Desember 2010


A. PAPARAN KASUS
Dodo mengalami kesulitan dalam menerima materi pelajaran fisika sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bahkan sampai ia di SMA, ia tetap kurang memahami konsep-konsep fisika. Sehingga ia pun tidak memilih fisika sebagai mata kuliah pilihannya di tingkat perguruan tinggi.
Saat diwawancara, ia mengatakan bahwa fisika itu menjadi momok yang sangat besar dalam dirinya saat itu. Ia menuturkan bahwa saat SMP dulu, ia malas mendengarkan gurunya yang menjelaskan materi-materi fisika yang dianggapnya sangat sulit.
Mengapa demikian? Ia berdalih gurunya tidak dapat menyampaikan materi dengan baik. Guru hanya memaparkan materinya saja, tanpa langsung menunjukkan contoh soal yang relevan dengan materi tersebut. Meski dipaparkan contoh soal, namun pemaparannya saat materi telah dilahap habis satu bab, hal ini membuat Dodo kurang memahami konsep-konsep fisika.
Selain itu, ia menjudge guru yang mengajar pelajaran fisika saat SMP itu killer dan ditakuti oleh siswanya. Ia pun tidak suka dengan pengajarnya tersebut, sehingga berimbas pada rasa tidak menyukai pelajaran fisika. Oleh karena itu, ia cenderung lebih malas dan tidak memperhatikan pelajaran fisika yang disampaikan oleh guru tersebut.
Akibat penyebab tersebut di atas, sejak SMP sampai SMA, Dodo tidak pernah mendapat nilai maksimal di pelajaran fisika. Tiap kali ujian, ia selalu mencontek temannya. Begitu pula saat mengerjakan tugas dari gurunya, ia tidak pernah mengerjakannya sendiri, ia selalu menggantungkan temannya.
Padahal di pelajaran lain seperti komputer, ia dapat menguasai dan bahkan dapat menjuarai Olympiade Sains Nasional pada bidang studi Komputer. Namun pada pelajaran fisika, ia sama sekali tidak mengerti konsep-konsepnya, yang sebenarnya ia tentu dapat memahami , bila ada dorongan, kemauan, serta rasa suka pada pelajaran tersebut.





B. ANALISIS PENYEBAB KASUS
Menurut Piaget (Sarjito, 1991 : 81) menyatakan bahwa perkembangan kognitif seseorang mengikuti tahapan berikut :
a. Masa sensori motorik
Usia 0-2,5 tahun. Masa ini adalah masa ketika bayi menggunakan sistem penginderaan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya.
b. Masa praoperasional
Usia 2-7 tahun. Ciri khas masa ini adalah kemampuan seorang anak menggunakan simbol dalam mewakili suatu konsep.
c. Masa konkreto praoperasional
Usia 7-11 tahun. Anak sudah dapat mengerjakan tugas yang konkret. Ia mengembangkan tiga macam operasi berfikir, yakni identifikasi,negasi,dan reprokasi.
d. Masa operasional
Usia 11-dewasa. Pada usia remaja dan seterusnya, seseorang akan mampu berfikir abstrak dan hipotesis.
Dalam kasus di atas, Dodo berada dalam masa yang telah kompleks, yakni masa operasional. Ia telah memasuki masa remaja, sehingga seharusnya ia telah dapat mengoptimalkan perkembangan kognitif dalam dirinya. Perkembangan kognitif ini tentu saja menyangkut terhadap penerimaan materi atau konsep-konsep fisika.
Seharusnya, Dodo mampu menerima materi dengan baik. Namun, dalam hal ini, ia tidak mampu menerimanya secara maksimal, hal tersebut tentu disebabkan oleh banyak faktor. Antara lain :
A. Faktor internal
1. Mindset
Mindset atau pola pikiran yang telah terbentuk pada seseorang dapat mempengaruhi tindakan seseorang. Jika seseorang telah berpandangan akan suatu hal, maka hal yang akan dilakukan akan sesuai dengan pola pikirannya tersebut. Ada keuntungan maupun kerugian jika seseorang dalam hidupnya cenderung menggunakan mindsetnya. Ini dapat terlihat dari efek yang ditimbulkan terhadap tindakannya yang bisa saja ke arah negatif atau justru positif.
Dalam kasus ini, Dodo memiliki mindset kurang baik. Ia menanamkan dalam dirinya bahwa fisika itu suatu pelajaran yang sulit, tidak mudah dimengerti dan gurunya pun killer dan kurang ramah. Akibatnya, Dodo semakin menjauhi fisika, enggan belajar fisika, bahkan alergi dengan fisika.
2. Intellegence
Intelegensi merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkannya memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul, (Singgih Gunarsa, 1991). Hal tersebut tentu saja dimiliki oleh tiap orang dengan taraf yang berbeda-beda. Menurut William Stem (1871-1938) , ada cara pengukuran tingkat intellegensi dalam bentuk perbandingan yang sering disebut dengan IQ atau Intellegence Quotient. Pada usia remaja, IQ dihitung dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan yang terdiri dari beberapa soal (hitungan, kata-kata, gambar-gambar, dan semacamnya) dan menghitung banyaknya pertanyaan yang dapat dijawab benar kemudian membandingkannya dengan sebuah daftar (yang dibuat berdasarkan penelitian yang terpercaya).
Dalam kasus ini, Dodo mungkin saja memiliki kemampuan yang kurang dalam bidang fisika. Atau dalam istilah lain, intelegensinya kurang dalam berhitung, analisis, serta memahami konsep-konsep fisis. Sehingga, kemampuannya pun tidak optimal dalam pelajaran fisika.
Selain itu, biasanya dalam kasus seperti ini, anak cenderung condong ke hal lain. Berarti, Dodo lebih condong ke bidang studi atau kemampuan yang laib, misalnya dalam bahasa, seni, olahraga, atau yang lainnya. Menurut hasil wawancara, Dodo berkemampuan lebih dalam hal seni, yakni seni musik dan seni rupa.
Hal tersebut menyangkut apa yang disebut dengan bakat. Lalu apa definisi dari bakat? Bakat merupakan kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relatif bersifat umum (misalnya bakat intekektual umum) atau khusus (bakat akademis khusus).
Dalam hal ini, Dodo memiliki bakat di bidang seni yang berkembang dengan baik karena selain kemampuan yang ia miliki, ia pun konsisten dengan apa yang disukainya, sehingga ia pun sering latihan untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya tersebut. Waktu luangnya ia gunakan untuk mengapresiasikan bakatnya tersebut. Namun ia lalai dalam mempelajari pelajaran yang menurutnya sulit tersebut, yakni dalam pelajaran fisika.
B. Faktor eksternal
1. Guru
Guru selaku tenaga pendidik memegang peranan penting dalam penyampaian materi fisika kepada peserta didik. Seorang guru dapat dikatakan seorang guru yang baik, apabila materi yang rumit dapat disampaikan dengan simple serta mudah dipahami oleh peserta didik. Sebaliknya, seorang guru yang tidak dapat menyampaikan materi dengan mudah atau materi yang sebenarnya sederhana justru dijadikan rumit, berarti ia belum sukses menjadi seorang guru yang baik.
Namun, yang menjadi permasalahan bagaimana cara agar dapat dikatakan sebagai seorang guru yang baik tersebut. Dalam penyampaian materi harus jelas, runtut, namun tidak menimbulkan kejenuhan bagi peserta didik, sehingga mereka dapat menangkap materi yang diajarkan tanpa harus bertanya-tanya lagi.
Sedangkan pada kasus ini, Dodo tidak dapat menerima materi fisika secara optimal. Hal tersebut juga dapat dikarenakan faktor tenaga pendidik atau guru yang kurang pandai menyampaikan materi. Akibatnya, Dodo tidak memahami konsep-konsep fisika.
2. Lingkungan sekolah
Dalam hal ini, Dodo mungkin memiliki teman-teman di sekolah yang kurang mendukung Dodo untuk belajar. Pada usia SMP, seorang anak cenderung belum mampu mencapai kedewasaan dan juga tidak mau lagi dipanggil sebagai anak-anak. Memang pada usia ini, peserta didik cenderung lebih sulit diatur dan juga belum mampu mengatur dirinya sendiri. Belum mampu memikirkan rencana masa depannya, ataupun sekedar memikirkan akibat apa yang akan diperolehnya apabila ia melakukan hal-hal tertentu. Atas dasar itulah, Dodo yang masih dalam usia itu dapat saja terpengaruh atau bahkan mungkin memperngaruhi teman-temannya untuk memilih main daripada belajar fisika.
Ia menganggap fisika itu satu hal yang tidak perlu ia pelajari, sehingga ia memilih keluar bermain , jalan-jalan ke mall dengan teman-temannya, ataupun bermain PS di rumah. Hal tersebut tentu lebih menyenangkan daripada sekedar mengerjakan PR fisika di kamar.
Jika ia mulai beranggapan demikian, ia akan memulai hari-harinya dengan bersenang-senang dan bermain dengan teman-temannya. Bahkan yang patut diperhatikan lagi, jika ia sampai membolos saat pelajara fisika, dan memilih ke kantin bersama teman-temannya. Hal tersebut harus segera diatasi, jika ia menginginkan untuk mampu dan lebih kompeten di pelajaran fisika.
3. Keluarga
Selain di sekolah, sebagian besar waktu Dodo dihabiskan di rumah bersama keluarganya. Hal tersebut menandakan bahwa keluarga memegang peranan penting pula terhadap Dodo. Apabila Dodo belum optimal di sekolah, berarti bisa jadi ia kurang mendapat perhatian orang tuanya.
Menurut Lindgren, 1980:42, kebutuhan dasar seorang individu ada 4, yakni :
a. Kebutuhan individu untuk mendapatkan teman sejawat
b. Kebutuhan individu untuk berhasil dan munculnya kebutuhan untuk bersaing
c. Kebutuhan individu untuk mengembangkan diri dan memiliki benda yang disenangi
d. Kebutuhan individu untuk mendapatkan kasih sayang dan cinta kasih
Berdasarkan kasus ini, Dodo mungkin saja kurang dalam pemenuhan kebutuhan ke empat, yakni kebutuhan mendapatkan kasih sayang dan cinta kasih. Ia kurang mendapat perhatian oleh kedua orangtuanya dalam hal pelajaran sekolah yang ia anggap susah. Orang tua dan anggota keluarga lain yang seharusnya memberikan ia perhatian agar ia dapat memotivasi dirinya untuk dapat belajar lebih giat lagi. Apabila hal tersebut tidak ada, maka sangatlah sulit untuk dapat mengoptimalkan kemampuan Dodo, terutama di pelajaran fisika.
4. Faktor X
Kasus ini menyebutkan bahwa Dodo telah dalam usia remaja. Adapun usia remaja tersebut penuh gejolak dan emosi cenderung labil. Menurut pedoman umum, usia remaja di Indonesia yakni usia 11-24 tahun dan belum menikah, dengan pertimbangan pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa : seperti tercapainya identitas diri (ego identity) (Erik Erikson), tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif (Piaget) maupun moral (Khohlberg).
Sedangkan definisi remaja dapat dilihat dari ciri-ciri berikut ini :
• Kegelisahan yang menguasai dirinya. Remaja memiliki banyak keinginan yang tidak selalu dapat terpenuhi. Di satu pihak, mereka ingin mencari pengalaman baru utnuk menambah pengetahuan dan keluwesan dalam bersikap dan bertingkah laku,akan tetapi, di pihak lain mereka belum mampu melakukan hal tersebut, sehingga muncul kegelisahan.
• Suka mengkhayal atau berfantasi. Terkadang khayalan tersebut bersifat positif, namun juga dapat bersifat negatif. Namun melalui khayalan yang positif dan konstruktif, remaja dapat melahirkan ide-ide baru yang cemerlang.
Sesuai definisi tersebut, pada usia remaja penuh dengan intrik, dan masih susah untuk ditebak serta diprediksi. Apabila seorang remaja memiliki masalah pribadi, seperti percintaan terhadap lawan jenis, ia cenderung berlaku moody dan terkadang membutuhkan teman untuk curhat. Jika kebutuhan seperti itu tidak terpenuhi, mereka cenderung melakukan hal-hal negatif, karena pola pikir mereka yang masih kekanak-kanakan. Tindakan negatif itu bisa disebut dengan tindakan represif, yakni upaya individu untuk menyingkirkan frustasi, konflik batin yang menimbulkan kecemasan. Contohnya : mogok sekolah dan memilih bermain PS dengan teman-temannya, tawuran antar pelajar, merokok dan melakukan penyimpangan-penyimpangan lain.
Hal tersebut di atas dapat menjadi salh satu alasan Dodo tidak bisa optimal dalam menerima materi. Karena mengingat ia masih dalam usia remaja yang penuh gejolak dan membutuhkan perhatian khusus, baik dari lingkungan keluarga serta lingkungan sekolah, yakni guru dan teman-temannya.

C. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
1. Merubah mindset yang selama ini telah terbentuk
Seperti yang telah dijelaskan di subab B, seseorang yang telah membentuk pandangan atau pola pikir tentang sesuatu, akan cenderung mengikuti apa yang difikirkannya tersebut. Jika dalam kasus ini akibat dari pandangan tersebut kurang baik, seharusnya mindset seperti itu harus dihilangkan.
Menghapus pandangan yang telah lama melekat dalam benak tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh upaya, keyakinan, dan tindakan nyata untuk dapat mengubah pola pikir yang buruk tersebut. Meyakinkan diri bahwa dirinya mampu menguasai konsep-konsep fisika dan tidak perlu lagi menganggap fisika sebagai suatu momok yang ditakuti ataupun dibenci.
Lalu bagaimana cara merubah mindset diri? Hal ini merupakan suatu tindakan yang tidak tampak, dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Mulailah dari sedikit memotivasi diri untuk menyukai fisika atau paling tidak termotivasi utnuk membaca buku fisika dan mendengarkan penjelasan dari guru fisika.
2. Memperbanyak literature tentang fisika dan terapannya
Ketika mempelajari tentang ilmu yang hanya menyuguhkan teori, rumus dan perhitungan yang rumit, tentu akan timbul perasaan jenuh dan bahkan tidak menyukai ilmu tersebut. Oleh karena itu, sesekali Dodo seharusnya mempelajari literature fisika yang memiliki appreciate penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dengan mengetahui bagaimana konsep-konsep fisika bekerja secara langsung dalam kehidupan kita, tentu akan menambah rasa curiousity kita terhadap pelajaran fisika. Sehingga tidak ada lagi kesulitan dalam memahami konsep-konsep fisika.
Adapun contoh dari penerapan konsep fisika, misalnya tentang gerak dalam lintasan parabola. Jika dalam kehidupan sehari-hari, dapat dipraktekkan saat bermain baseball. Saat itu, arah gerak bola membentuk sudut dan memiliki kecepatan anguler serta kecepatan linier. Jadi, konsep fisika akan lebih mudah dipahami saat kita mulai tau bagaimana penerapannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
3. Mengikuti tambahan belajar atau les di guru privat
Salah satu cara lain untuk dapat membantu lebih mudah memahami konsep-konsep fisika yakni dengan tmabahan belajar atau les privat. Dengan mendapat tambahan materi secara lebih rinci maka akan cenderung lebih mudah memahami materi dan mendapat tambahan ilmu pula nantinya.
4. Orangtua memberikan motivasi dan dukungan
Seperti yang telah diuraikan di subab B, bahwa seorang remaja membutuhkan perhatian, kasih sayang dan cinta kasih. Jika hal itu diperoleh, maka kebutuhan emosional remaja tersebut terpenuhi. Dampaknya, ia akan lebih semangat dalam mengahdapi semua permasalahan yang ia hadapi saat itu, termasuk memahami pelajaran yang dianggapnya sangat sulit.

















D. KEKUATAN DAN KELEMAHAN ALTERNATIF
1. Merubah mindset
Kelebihannya yakni dengan cara ini, ia dapat menghilangkan pandangan buruknya tentang pelajaran fisika. Sehingga ia tidak takut lagi dengan fisika dan dapat mempelajari fisika dengan senang hati tanpa paksaan apapun.selain itu, jika ia tidak lagi berpandangan bahwa fisika menjadi satu momok buruk bagi siswa, ia dapat menggunakan fisika sebagai ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan juga orang lain. Seperti ia dapat menghasilkan sesuatu dari hasil pemikiran tentang fisika.
Kekurangannya yakni merubah mindset seseorang, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja harus ada dukungan dari teman sejawat, orangtua, serta guru selaku tenaga pendidik. Karena itu, usaha meyakinkan diri butuh waktu lama dan tidak dapat dipaksakan.
2. Memperbanyak literature tentang fisika dan penerapannya
Kelebihannya yakni literature tentu dapat menambah ilmu pengetahuannya. Ia lebih memahami dengan apa yang diperolehnya di sekolah, menganalisis apa yang diperolehnya di sekolah. Ia dapat membandingkan apabila ada fakta dan ada anggapan saja yang berkaitan dengan fisika.
Kekurangannya yakni, jika dari diri sendiri tidak ada kemauan langsung untuk menambah wawasan, maka tidak akan mungkin ia mencari literature fisika, apalagi mempelajarinya. Tentu menjadi satu hal yang sangatlah tidak mungkin terwujud.
3. Les privat
Cara ini memang alternatif yang sering ditempuh beberapa peserta didik untuk meningkatkan kefahaman terhadap materi pelajaran yang dirasa sulit. Karena dengan mengikuti tambahan belajar dengan metode bimbingan pribadi, peserta didik akan lebih mudah menangkap materi. Sebab jika masih belum mengerti materi yang disampaikan di sekolah, ia dapat menanyakannya kepada tutor lesnya. Ia dapat pula meminta bantuan mengerjakan tugas-tugas sekolah tentang materi tersebut.
Akan tetapi, kelemahannya, jika ia terlalu banyak mengikuti les/bimbingan belajar, ia akan kehabisan waktu untuk belajar sendiri dan memahami materi itu secara mandiri. Selain itu, jika terlalu banyak les, ia pasti akan merasa jenuh. Sehingga ia cenderung malas dengan pelajaran tersebut.
4. Dukungan orang tua dan bimbingan
Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap psikis peserta didik. Jika ada seseorang terdekat yang memperhatikannya, mendukungnya, serta memberikan reward tertentu apabila ia berhasil, maka secara tidak langsung peserta didik akan termotivasi dan berupaya sekeras-kerasnya untuk dapat menyelesaikan tahap evaluasi dengan baik dan dengan nilai yang memuaskan pula.
Namun, hal tersebut juga sangat sulit diwujudkan apabila memang ia berada dalam keluarga yang broken home

Tidak ada komentar:

Posting Komentar